Kancah Film Indonesia Menjadi Perhatian Lebih Akademisi Dunia

Kancah Film Indonesia Menjadi Perhatian Lebih Akademisi Dunia! Sekitar belasan akademisi serta para peneliti berkumpul di sebuah Pusat kajian Asia Tenggara yaitu SOAS, tepatnya di kota London, tanggal 3-4 Oktober pada saatworkshopguna membicarakan terkait penelitian mereka akan film-film yang ada diIndonesia.

Selain para peneliti yang berasal dari perguruan tinggi yang sudah bertradisi mengkaji negara Indonesia cinema 21seperti hanya SOAS serta Universitas Leiden, Belanda, ternyata hadir pula peneliti yang berasal dari Universityof Southern California, Los Angeles dan beberapa kritikus asal Jakarta yang akan menyajikan penelitiannya menyangkut kondisi kritik masalah film di Indonesia khususnya.

Sosok penggagas dari acara ini adalah Dr. Ben Murtagh dari SOAS, dirinya mengatakan kalau selain untuk membangun komunitas pengkaji film, sebenarnya workshop juga bertujuan menjadi suatu forum bertukar pendapatpada saat mengkaji film Indonesia yang mempunyai tradisi istimewa di cinema 21.

“Sudah ada beberapa peneliti mengkaji terkaitpraktek menonton film yang ada di Indonesia dari waktu ke waktu,” jelas Ben Murtagh, “Ini termasuk informasi soal sejarah awal beredarnya film di Indonesia serta peredaran film pada luar bioskop.”

“Dalam satu tema yang terus muncul yaitu bagaimana reformasi ketika tahun 1998 mempengaruhi cara kita untuk memahami perkembangan film Indonesia pada sejarah, suatu pertanyaan seperti perubahan serta keberlanjutan pada budaya sekaligus industri film sendiri- yang mulai muncul sejak jatuhnya Orde Baru,” ungkap Ben kembali.

Pada kesempatan itu, SOAS ternyata juga menyelenggarakan pemutaran beberapa film-film Indonesia cinema 21seperti kontemporer serta menjadi tuan rumah untuk acara tahunan guna bisa mempromosikan seni sekaligus budaya Indonesia di kota London, Indonesia Kontemporer yang dipegang oleh sebuah lembaga nirlaba.

Selain dari film pemenang FFI tahun kemarin, Cahaya dari Timur: Beta Maluku hasil karya Angga D. Sasongko, berhasil diputar juga Tabula Rasa karya dari Adriyanto Dewo serta sebuah film dokumenter film laga Indonesia sekitar tahun 1970-80an, yaitu Garuda Power: The Spirit Within yang disutradarai orang Prancis, Bastian Meiseronne.

shares